Simfoni kebahagian

Denting...
Suara kecil tentang kesederhanaan dan kejujuran.
Yang berbunyi disudut kamar, menyadarkanku dari lamunan panjangku.
Tidak muluk-muluk dan suaranya tidak terlalu keras namun sering menentukan.
.....
Sekecil dan sesederhana apa pun reaksinya bisa menjadikan sesuatu yang vital dalam proses membangun pribadi yang kuat.

Suaranya yang penuh ketenangan namun di dalamnya banyak tersimpan kepalsuan.

Suara kepalsuan yang terdengar asli namun rabun. Bukan kenapa? Tapi karena.

Nada sederhana yang mengubah suasana, mampukah kau terenyuh dalam setiap alunannya? Enyahlah.

Nyanyian yang selalu kamu alunkan dengan lembutnya itu, hanyalah emosi bukan ambisi.

Nada yang timbul disudut kesunyian dan membuat diri terbangun. Semua ini nyata adanya bukan seperti mimpi indah yang tak ingin tersadar.

Dan ketika kamu terbangun dalam anganmu, akankah kamu mau beranjak dari tidurmu?
Angan yang tinggi hanya ada dimimpi. Tanya hati?

Mimpi selalu ada, hati-pun jua. Namun akankan mereka dapat berjalan beriringan dengan mengalunkan nada-nada sederhana yang mengubah suasana?

Akankah ada kutemukan lagi nada sederhana di dalam alunannya? Alunan yang berbeda, tak sama, namun hati bisa menangkapnya.

Ada. Bila kamu memejamkan mata dan membuka hati untuk melihat alunan lembut itu masuk dan merasuk menyentuh gagang pintu hatimu.

Bagaimana bisa membuka hati? Tanpa ada bantuan hati, hati, hati lainnya. Alunan itu semakin jelas, semakin nyata dan tak ingin sirna namun sulit untuk merasa.

Cukup dengan satu hembusan nafas, alunan itu akan datang menyambutmu untuk beranjak dengan melodi kesejukan.

Melodi dengan nada yang berbaris teratur dan alunan yang menyentuh batin. Perlahan mendekati sampai akhirnya memenangkan jiwa.

Ya, itu bukan sebuah janji namun itu sebuah kepastian yang dunia-pun tak dapat memungkirinya. Jika semua dilakukan dengan satu hembusan ketulusan.



Perindu Kopi

*
Betapa besarnya perjuangan saat kita bersebrangan, disaat aku mulai menyeduh kopiku dan menyulang rindu kepada kehangatan. Dan ketika rindu mulai menyelimuti, ketika dinginnya hati mulai menusuk saraf. Saat itu pula hanya secangkir kopi yang dapat menggantikan pelukan rindu. Karena ketika secangkir kopi mulai ku teguk, aku merasakan hangatnya pelukan rindu.

Kopi itu layaknya cinta, bukan nikmat ketika panas dan akan cepat habis diminum. Tapi ia bisa mencandu sehingga membuat rindu yang menggebu. Dan jika kita tidak bisa menikmatinya maka akan terasa pahit bahkan teramat. Tapi tenanglah, itu tidak akan membuatmu mati. Karena mencinta dan menikmati kopi itu bukan bagaimana kamu mengawali dan mengakhirinya, tapi bagaimana cara kamu menikmatinya. Maka jangan berucap asal kepada kopi; karena sepahitnya kopi banyak mereka yang berkata nikmat, namun sepahitnya perasaan nikmat-pun enggan untuk berucap.

Dalam bercinta kita harus berkorban dan dalam menikmati secangkir kopi, ada banyak sekali cangkir-cangkir kopi yang rela berkorban demi melebur kebersamaan dan menikmatinya bersama teguk demi teguk.
Dimana aroma kenikmatan kopi mewangi mencium hidung yang layu, rindu kopi tak menentu selalu menggoda pedas untuk mencumbu. Kopi itu kamu, yang penuh dengan inspirasi sehingga sulit untuk dihabisi. Karena selain kopi, kamu begitu menentramkan. Tak salah bila berangan, namun jika menikmati kopi tanpa air kemurnian itu sangatlah pengalaman pahit.
Banyak yang berkata kopi itu seperti kenangan pahit; ya, mungkin pahit tapi bisa membuat mata melek, siap untuk maju, bangun dari mimpi untuk meraih masa yang baru.

Saat kopi di cangkir ku sudah mulai surut, tolong seseorang isikan lagi. Aku belum berani menantang dunia tanpa kafein. Dan ketika cintaku sudah mulai surut, tolong seseorang sirami lagi. Agar aku bisa merasakan hidupku lebih hidup seperti kopi yang dapat mencairkan yang beku dan membuka yang buntu.

Bagiku kopi bukan sekedar minuman, namun penyejuk bagi setiap perindu.
Ya, aku lebih suka mabuk akan kopi dan cinta, ketimbang mabuk harta dan kekuasaan.

Jika-Maka-Telanjang

JIKA berpakaian rapi yang menutupi aurat adalah suatu keterbelakangan, dan membuka aurat dengan pakaian yang mini /pakaian yang setengah jadi adalah sebagian dari bentuk kemajuan peradaban.

MAKA binatang adalah makhluk ALLAH yang sudah mencapai pada peradaban paling maju, karena mereka bukan saja membuka aurat, terlebih mereka adalah TELANJANG.



Percayalah...

Jangan terlalu lama bertanya tentang diri jika akhirnya malah terpuruk dan mati.

"Kita memang makhluk paling sempurna tapi tiada yang sempurna di dunia ini. Namun jangan berkecil hati, semua dapat diupayakan menjadi lebih baik."

Maka begini saja...
Bermimpilah seperti apa yang ingin kamu impikan.
Lakukanlah apa yang ingin kamu lakukan.
Berbahagialah sekarang jangan menunggu kebahagiaan datang.
Tebarkan manis senyummu kepada semesta yang mengelilingi kehidupanmu.
Bersikap ramah dan hangat kepada setiap yang dekat.
Tersenyum, tertawa, ceria, dan berbahagia atas keadaan apa pun yang dirasa.

"Rencana Tuhan yang Maha Esa adalah kebaikan atau jalan menuju kebaikan."

Maka jangan rendahkan diri.
Jadikan iri sebagai motivasi perbaikan diri.
Tak ada diri yang lebih baik, selain dirimu sendiri.

Berbahagialah atas anugerah kehidupan yang Tuhan yang Maha Kuasa berikan.
Bersabar dan bersyukur adalah kawan terbaik untuk menjalani kehidupan.

Sabar adalah mengupayakan perbaikan.
Sementara syukur adalah menerima apa pun keputusan akhir yang Tuhan berikan.

"Jadilah salju dalam gurun, berani beku dalam terik, berani putih dalam gersang. Aku percaya engkau bisa."

Derita putus asa

Menantang rintangan dan penderitaan itu lebih mulia daripada surut ke belakang menuju ketenteraman. Karena rama-rama yang berputar-putar sekitar lampu hingga mati, lebih terhormat daripada tikus yang hidup di dalam terowongan gelap.

Rasa putus harapan melemahkan pandanganku dan menutup telinga-ku.
Aku tak bisa melihat apa pun kecuali bayangan kegelapan, dan hanya detak-detak jantungku yang gelisah yang dapat terdengar.

• NEGRIKU KAYA_


Di beberapa negeri, kekayaan orang tua justru menjadi sumber malapetaka anak-anaknya.

Kotak perkasa yang lapang yang telah digunakan para orang tuanya terdahulu untuk menyimpan kekayaan mereka,
justru menjadi penjara sempit dan gelap bagi jiwa anak keturunannya.

Rp yang amat berkuasa yang banyak dipuja di negeri ini, berubah menjadi hantu yang merejam jiwa dan membunuh secara perlahan.